Strategi Pengendalian Ulat Grayak Untuk Meningkatkan Produksi Tanaman Jagung

Sumber Gambar: Corteva.id

Tanaman Jagung memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan manusia dan sebagai bahan dasar pembuatan pakan ternak. Bagi petani jagung, kondisi tersebut memberikan peluang untuk mengembangkan budidaya tanaman jagung agar bisa meningkatkan produksi Jagung.

Namun, dalam bercocok tanam jagung, petani juga menghadapi kendala yaitu adanya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Salah satu hama yang mengganggu produktivitas jagung adalah ulat grayak (Spodoptera frugiperda), seperti diketahui Ualt grayak merupakan  hama asli daerah tropis dari Amerika Serikat hingga Argentina. Ulat FAW ini bisa menyerang lebih dari 80 spesies tanaman, termasuk jagung, padi, tebu, sayuran, dan kapas serta bisa mengakibatkan kehilangan hasil yang signifikan jika tidak ditangani dengan baik. Di Indonesia, ulat grayak telah ditemukan pada beberapa lokasi Pertanian.

Karena penyebaran hama ulat FAW yang cepat, maka serangan ini bisa menimbulkan dampak serius yang merugikan. Satu-satunya solusi yang baik untuk mengatasi masalah serangan hama yang rakus ini adalah dengan mengenali gejala serangan ulat FAW dengan lebih detail dan melakukan upaya pengendalian yang maksimal.

Beberapa gejala serangan ulat FAW yang perlu diwaspadai adalah adanya bekas gerekan dari ulat, serbuk kasar seperti serbuk gergaji pada permukaan atas daun atau di sekitar pucuk tanaman jagung, serta serangan pada bagian tongkol jagung apabila populasi ulat FAW sangat  tinggi.

Terkait dengan Pengendalian Ulat Grayak pada Tanaman Jagung ada beberapa Teknik pengendalian yang bisa dilakukan, antara lain :  Pertama, Menggunakan alat perangkap ngengat sex feromonoid sebanyak 40 buah/Ha semenjak tanaman jagung berumur 2 minggu untuk mengendalikan secara fisik.

Kedua, Dapat memanfaatkan agensia hayati seperti cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, atau Metarhizium anisopliae, golongan bakteri seperti Bacillus thuringensis, serta patogen virus menggunakan Sl-NPV (Spodoptera litura – Nuclear Polyhedrosis Virus), dan parasit lain seperti Parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, atau Peribeae sp untuk mengendalikan secara Biologis.

Melakukan penyemprotan insektisida dengan bahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin dengan dosis/konsentrasi yang sesuai petunjuk di kemasan untuk mengendalikan secara Kimiawi. Dengan memperhatikan ketiga poin tersebut, diharapkan dapat membantu mengendalikan ulat grayak pada tanaman jagung dengan lebih efektif.