Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat sektor pertanian melalui peningkatan pelayanan dan pendampingan bagi petani di seluruh Indonesia. Dalam Apel Nasional Penyuluh Pertanian yang dihadiri ribuan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari berbagai provinsi, Mentan menekankan bahwa PPL harus memastikan setiap program dan bantuan pemerintah benar-benar menyentuh petani yang paling membutuhkan.
Petani Gurem Menjadi Prioritas Utama
Dalam arahannya, Mentan Amran menyampaikan bahwa bantuan pertanian yang bersumber dari pemerintah pusat, seperti alat dan mesin pertanian (alsintan), benih, maupun fasilitas pendukung lainnya, harus diprioritaskan untuk petani gurem, petani miskin, serta kelompok tani yang secara ekonomi masih tertinggal. Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan kelompok rentan di sektor pertanian mendapatkan dukungan paling awal.
“Bantuan pemerintah tidak boleh salah sasaran. Mereka yang memiliki sumber daya terbatas harus kita bantu lebih dulu,” tegasnya.
Ia menambahkan, ketepatan sasaran bukan hanya masalah administrasi, tetapi menyangkut keadilan dan keberlanjutan pembangunan pertanian. Kesalahan distribusi bantuan dapat berdampak pada ketimpangan dan memperlambat peningkatan produksi pangan nasional.
PPL Sebagai Garda Terdepan Pertanian
Dalam kesempatan tersebut, Mentan Amran menggarisbawahi bahwa PPL merupakan ujung tombak dalam implementasi berbagai program strategis kementerian. Peran aktif PPL, menurutnya, sangat menentukan keberhasilan program—mulai dari pendampingan teknis, edukasi budidaya, hingga penguatan kelembagaan petani.
Ia meminta para PPL bekerja dengan semangat pengabdian, tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menjadi fasilitator, motivator, sekaligus pelopor inovasi pertanian di lapangan.
“Integritas penyuluh sangat menentukan masa depan petani. Jika penyuluh bekerja dengan benar, maka petani akan maju dan produksi kita meningkat,” ujarnya.
Pembenahan Data Menjadi Kunci Ketepatan Program
Salah satu pesan kuat yang ditekankan Mentan adalah perlunya memperbaiki kualitas pendataan di tingkat lapangan. Ia meminta seluruh PPL memperbarui data kelompok tani, kebutuhan saprodi, luas lahan, dan profile usaha tani secara berkala.
Data yang akurat sangat diperlukan dalam perumusan kebijakan, termasuk dalam pengalokasian anggaran, perencanaan bantuan, hingga penanganan kedaruratan akibat ancaman perubahan iklim. Mentan mengingatkan bahwa data yang tidak valid dapat berujung pada penyimpangan, keterlambatan bantuan, atau program yang tidak efektif.
“Kalau datanya salah, kebijakan pun akan meleset. Karena itu, tugas PPL adalah memastikan data di lapangan benar-benar sesuai kondisi yang ada,” katanya menegaskan.
Kesiapsiagaan Menghadapi Perubahan Iklim
Mentan juga menyoroti tantangan pertanian modern yang semakin kompleks akibat perubahan iklim. Ia meminta PPL lebih sigap dalam memantau dan melaporkan kondisi di lapangan, terutama ketika terjadi banjir, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), kekeringan, atau ancaman gagal panen.
Pelaporan dini dinilai penting agar pemerintah pusat bisa melakukan langkah cepat berupa bantuan benih, penyemprotan hama, maupun dukungan penanganan darurat lainnya. PPL diminta memahami karakter wilayahnya dan menjalin koordinasi cepat dengan dinas pertanian daerah.
Penyampaian Informasi Kebijakan Secara Cepat
Dalam era informasi seperti saat ini, Mentan Amran juga menginstruksikan PPL untuk menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan petani. Ia mencontohkan kebijakan strategis seperti penurunan harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen, yang harus segera disampaikan kepada kelompok tani agar mereka bisa merasakan manfaatnya tanpa penundaan.
Sosialisasi kebijakan dengan cepat dan tepat dianggap penting agar petani dapat menyesuaikan perencanaan usahanya, terutama menjelang musim tanam.
Integritas PPL Menentukan Masa Depan Pertanian
Mengakhiri arahannya, Mentan Amran menekankan bahwa keberhasilan program pertanian nasional bergantung pada integritas para PPL. Ia menegaskan bahwa penyuluh harus menjunjung tinggi etika, bersikap transparan, tidak berpihak, serta mengutamakan kepentingan petani dalam setiap keputusan.
“Kalau PPL bekerja dengan hati, saya yakin petani akan sejahtera dan ketahanan pangan kita semakin kuat,” tutupnya.
Dengan berbagai penegasan tersebut, Mentan berharap PPL semakin profesional dan berperan besar dalam memperkuat sektor pertanian, terutama bagi petani gurem yang menjadi fondasi produksi pangan nasional.













