Ulat grayak (Spodoptera sp.) merupakan hama utama pada tanaman jagung, terutama saat musim kemarau. Larva kecil menyerang daun secara bergerombol, meninggalkan sisa epidermis bagian atas yang transparan atau bahkan hanya menyisakan tulang daun. Larva biasanya berada di permukaan bawah daun, sehingga sering luput dari pengamatan awal.
Pengendalian ulat grayak dapat dilakukan dengan beberapa metode. Secara fisik, perangkap ngengat berbasis sex feromonoid dapat dipasang sebanyak 40 buah per hektar sejak tanaman berumur dua minggu untuk menekan populasi ngengat dewasa sebelum bertelur. Secara hayati, pemanfaatan musuh alami seperti jamur Cordyceps sp., Aspergillus flavus, Beauveria bassiana, Nomuraea rileyi, dan Metarhizium anisopliae dapat membantu mengurangi populasi larva. Bakteri Bacillus thuringiensis juga efektif dalam mengendalikan ulat grayak, sementara virus Spodoptera litura Nuclear Polyhedrosis Virus (Sl-NPV) dapat digunakan sebagai agen pengendali tambahan. Selain itu, parasitoid seperti Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplitis similis, dan Peribeae sp. dapat menghambat perkembangan larva dengan cara bertelur di dalam tubuhnya.
Jika serangan sudah parah, penggunaan insektisida bisa menjadi pilihan terakhir. Beberapa bahan aktif yang dapat digunakan meliputi profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis sesuai petunjuk pada kemasan. Dengan pendekatan pengendalian yang tepat, serangan ulat grayak dapat ditekan sehingga tanaman jagung tetap tumbuh optimal dan hasil panen tidak terganggu.













