Melihat fakta yang ada, apakah kita suka atau tidak, naturalisasi telah memberikan harapan baru bagi perkembangan sepakbola di Indonesia. Saat ini, bisa dikatakan bahwa naturalisasi merupakan program terbaik dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Mengapa demikian? Dalam rentang waktu 1990 hingga 2018, banyak program yang diluncurkan oleh PSSI untuk meningkatkan Prestasi sepakbola di Indonesia. Namun, hasilnya mengecewakan; tim nasional tidak pernah meraih Piala AFF, hanya menjadi juara SEA Games dua kali pada tahun 1991 dan 1987. Mereka pun mulai kesulitan melawan Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Meskipun dana Sudah dialokasikan dan program-program telah dilaksanakan oleh PSSI untuk meningkatkan performa tim nasional namun prestasi tak kunjung jua datang. pada tahun 1990-an, PSSI menganalisis masalah performa tim nasional. Ditemukan bahwa pemain tim nasional Indonesia memiliki VO2 MAX yang rendah, disebabkan pemain “kurang gizi” sehingga tidak mampu berlari selama 90 menit pertandingan. Sudah barang tentu dengan kondisi ini susah mengimbangi permainan timnas Korea dan Jepang yang bermain cepat Sepanjang pertandingan.
Untuk mengatasi masalah ini, PSSI berusaha meningkatkan nutrisi para pemain sepakbola di Indonesia dengan memberikan makanan bergizi setelah latihan kepada pemain- pemain klub perserikatan. Memberikan bubur kacang hijau kepada pemain merupakan pemandangan umum yang dilakukan klub-klub setelah sesi Latihan selesai.
Namun, yang ironis adalah bahwa ketika program ini berjalan, PSSI terkejut dengan kesuksesan seorang “Pelari marathon Kurang Gizi” bernama Adis Abeba dari Ethiopia, yang menjadi Juara Olimpiade di Barcelona pada tahun 1992. Melihat fenomena ini, PSSI secara otomatis menghentikan programnya, menganggapnya sebagai kegagalan.
Pada tahun 1994, PSSI mengubah programnya, dengan keyakinan bahwa untuk tampil apik, pemain tim nasional harus memiliki postur besar dan tinggi seperti pemain dari Korea Selatan dan Jepang. Sebagai hasilnya, PSSI, melalui Talent Scouting, mencari pemain berbakat dengan fisik ideal, yang menghasilkan penemuan bakat-bakat hebat seperti Kurniawan DJ, Bima Sakti, Angang Makruf, dan lainnya.
Pemain-pemain ini kemudian dikumpulkan dalam tim nasional yang dikenal sebagai PSSI Primavera dan menjalani latihan di Italia. Namun, sementara program ini berjalan, PSSI terkejut dengan keahlian teknis duo Brasil, Romario dan Bebeto, yang memimpin negara mereka meraih Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Patut dicatat bahwa Romario dan Bebeto hanya berpostur 155 cm, berbeda jauh Timnas Azzuri alias Italia lawan mereka di Final yang pemain nya rata – rata memiliki tinggi badan 180 cm.
Selanjutnya, PSSI menghentikan program ini, terutama setelah tim nasional Primavera gagal di Piala Asia U-20 dan dikalahkan oleh lawan-lawannya di kualifikasi Olimpiade dengan skor mencolok, hebatnya lagi, PSSI tidak menyerah dan malah menggabungkan kompetisi perserikatan dan Galatama ke dalam satu liga bernama Liga Dunhill. Perlu diingat pada saat inilah kehadiran pemain asing mulai dilegalkan kembali di Indonesia.
Apakah dengan program ini Timnas bisa berprestasi? Ternyata juga tidak, paling tinggi prestasi yang diraih hanya Runner Up Piala AFF. Pemain asing yang ada di liga Dunhil pun belum mampu mengangkat pamor Liga Indonesia. Merespon hal ini PSSI mulai Menata Klub Di Liga Indonesia menjadi lebih professional, diantaranya PSSI Pada Tahun 1996 atau bertepatan dengan bergulirnya Liga Kansas, Klub “Diwajibkan “ menerapkan strategi 3 – 5 – 2 yang sekaligus menjadi Patron Pola permainan Timnas Kala itu. Efeknya Timnas kala itu dibawah asuhan pelatih berkebangsaan Belanda Hank Wullems mampu menampilkan permainan atraktif melalui pemain sayap dan wing yang cepat.
Faktanya justru Pola ini tidak Efektif, ketika berhadapan dengan timnas Korea, jepang, Cina dan lain – lain yang memiliki pemain sayap yang cepat juga, buktimya Timnas Indonesia kalah telak dari Korea Selatan 2-5 pada pergelaran PIala Asia 1996 di Kuwait. Meskipun saat itu Striker Timnas Widodo CP berhasil melesatkan tenangan salto indah ke gawang Kuwait dan dianggap sebagai Gol terbaik selama turnamen berlangsung.
Masih terkait dengan hal diatas, mulai tahun 2000 hingga 2018 PSSI tidak memiliki program yang jelas. Perebutan Kursi kepemimpinan yang menimbulkan dualisme Liga serta memicu Banch FIFA membuat persepakbolaan Indonesia semakin terpuruk hingga mencapai posisi Ranking 174 FiFA atau teendah dalam sejarah, bahkan beraada dibawah peringkat FIFA Timnas kamboja dan Myanmar.
Selaian itu dalam peride 2000 hingga 2018 PSSI mencoba Gonta Ganti Pelatih asing, misalnya merekrut pelatih asing berkualitas seperti Romano Matte, Ivan Kolev, Bernard Schum, dan Alfred Riedl secara bergantian melatih tim nasional. Namun, kesuksesan yang diharapkan tidak tercapai. Bahkan lebih aneh lagi, semua pelatih ini mengeluhkan mental pemain yang buruk, Pola makan bukan seperti atlet, visi permainan yang lemah, dan keterampilan duel Bola atas yang kurang bagus..
Lalu dari sekian deretan Program, apa program PSSI yang bisa dikatakan Paling berhasil. Jawabannya adalah Naturalisasi. Program naturalisasi ini sudah dimulai sejak Tahun 2010 lalu, dimulai dari pesepak bola asal Uruguay Cristian Gonzalez, kemudian Irfan Bachdim, kim jeffry Kurniawan. Lalu menyusul nama – nama seperti Tony Cussel Lylipali, Raphael Maitimo, Diego Michels hingga ilija spajozevic, Sergio Van Dijk dan lain –lain. Namun seperti diketahui bersama Naturalisasi Tahap pertama ini bisa dikatakan gagal Total dimana prestasi paling tinggi hanya Runner Up Piala AFF tahun 2012 dan 2016.
Barulah pada Masa kepemimpinan Ketua PSSI Eric Tohir dan Coach Sin Tae Yong Naturalisasi membuahkan Hasil. Program Naturalisasi Dengan memprioritaskan pemain keturunan Indonesia yang bermain di level tertinggi liga Eropa seperti Jay idzes, Calvin Verdonk, Kevin Diks dan lain – lain membawa dimensi baru bagi perkembangan tim nasional. Performa tinggi, visi permainan yang baik, sikap mental yang kuat, stamina yang memadai, kemampuan untuk berduel di udara, dll., membuat tim nasional dihormati di Asia.
Tidak heran, dengan sumbangsih pemain Naturalisasi Timnas Bisa Lolos Round 3 Kualifikasi Piala Dunia zona asia dan menjadi semi finalis Piala asia U-23 yang lalu. Akibat prestasi itu, Banyak pengamat menyatakan bahwa tim nasional saat ini dengan pemain naturalisasi bukan hanya berada di level Asia Tenggara lagi tetapi telah maju ke level Asia. Apakah Anda setuju bahwa program naturalisasi lebih berhasil dibandingkan dengan program-program sebelumnya yang dilaksanakan oleh PSSI?.











