Mengapa Northern Territory Australia Menjadi Pusat Peternakan Sapi Dunia?

Peternakan sapi di Australia ( Sumber Foto : Pngtree

Klik Agrosiana.com – Meskipun sebagian besar wilayahnya berupa lahan gersang dan terbatasnya jenis rumput yang tumbuh, Wilayah Australia Utara (Northern Territory/NT) justru mampu mengembangkan industri peternakan sapi yang sangat pesat.

Gulfan Afero, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Darwin, Australia, yang telah menetap selama empat bulan di NT, menjelaskan empat faktor utama yang mendukung pesatnya pertumbuhan industri peternakan sapi di wilayah tersebut. NT bahkan mampu mengekspor sapi ke berbagai negara, termasuk Indonesia, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, dan China, dengan total produksi mencapai 600 ribu ekor sapi setiap tahunnya.

Faktor pertama adalah penerapan proteksi lingkungan dan biosekuriti yang terstruktur dan konsisten. Sistem hukum Australia yang terbagi menjadi sistem federal dan kewenangan lokal memungkinkan NT untuk memiliki regulasi khusus terkait biosekuriti, pembukaan lahan, dan konservasi jenis rumput yang terbatas.

“Termasuk biosekuriti, pembukaan lahan, serta pengelolaan jenis rumput yang memang terbatas,” jelas Gulfan dalam Kuliah Pakar yang diselenggarakan secara daring oleh Program Magister Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bersama Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI) pada Rabu (21/10).

Faktor kedua adalah penegakan hukum yang ketat dan adil. Setiap pelanggaran dikenakan sanksi berat tanpa pandang bulu, menciptakan efek jera bagi pelanggar dan menjaga kelestarian lingkungan.

Ketiga, wilayah NT memiliki luas sekitar 1,3 juta km² namun dihuni oleh hanya 250 ribu penduduk. Wilayah yang luas ini dimanfaatkan untuk peternakan sapi, dengan beberapa peternakan bahkan memiliki lahan hingga 1,6 juta hektar.

“Saya pernah menempuh perjalanan hingga 45 menit dari kantor menuju lokasi penggembalaan, bahkan ada yang sampai tiga jam,” tambah Gulfan, berbagi pengalamannya.

Sapi di NT sebagian besar dipelihara secara alami tanpa teknologi khusus, namun saat akan diekspor, sapi-sapi tersebut digiring menggunakan helikopter ke titik pengumpulan sebelum dimuat ke truk dan dikarantina.

Faktor keempat adalah peran penting asosiasi dan pemerintah. Northern Territory Cattlemens Association (NTCA) berperan besar dalam melindungi peternak, termasuk mengatur harga dan pemasaran sapi. Pemerintah juga mendukung dengan memberikan pinjaman modal serta berkolaborasi dengan lembaga riset untuk solusi terbaik bagi peternak.

Kondisi di Indonesia

Di sisi lain, Ketua Umum PB ISPI Didiek Purwanto mengungkapkan bahwa produksi daging sapi dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Pada tahun 2020, kebutuhan daging sapi nasional mencapai 717.150 ton, namun produksi domestik hanya mampu menyediakan 58% dari angka tersebut, menciptakan defisit sebesar 294.617 ton atau setara dengan 1,31 juta ekor sapi.

Kekurangan tersebut ditutupi dengan impor sapi bakalan dari Australia dan daging kerbau beku dari India. Pada tahun 2020, Indonesia mengimpor 349.232 ekor sapi bakalan dan 170 ribu ton daging beku.

Program pemerintah seperti Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) dan gertak birahi membantu meningkatkan populasi sapi, namun struktur populasi ternak masih menjadi tantangan.

“Dengan konsumsi daging per kapita yang hanya 2,52 kg per tahun, kenaikan 0,5 kg saja sudah akan sangat membebani produksi dalam negeri,” tegas Didiek, menekankan pentingnya akselerasi produksi sapi nasional.

Referensi : Media Agribibisnis Peternakan TROBOS, Kamis 22 oktober 2020