Dunia perdagangan global kembali bergolak setelah pemerintah Tiongkok secara resmi mengumumkan kebijakan pembatasan ekspor mineral penting pada Kamis (3/5) lalu. Kebijakan ini memicu kekhawatiran akan terjadinya ketegangan dagang antara Tiongkok dan sejumlah negara mitra, termasuk Uni Eropa, yang menjadi salah satu importir utama mineral tersebut. Meski pelaksanaan kebijakan baru ini masih diberi masa transisi 60 hari, banyak pelaku industri di kawasan Eropa sudah mulai bersiap menghadapi dampaknya.
Dalam acara Global Trade Forum bertajuk “Strategi Bisnis Menghadapi Kebijakan Ekspor Tiongkok” yang diadakan di Berlin, Kamis (4/5/2025), Wakil Ketua Asosiasi Industri Manufaktur Eropa, Johannes Müller, menyebut bahwa langkah Tiongkok ini berpotensi menjadi pedang bermata dua bagi negara tersebut. Menurutnya, banyak industri manufaktur global, termasuk di Eropa, sangat bergantung pada pasokan mineral dari Tiongkok, seperti logam tanah jarang dan litium, yang menjadi bahan baku utama untuk berbagai produk teknologi.
“Tiongkok mungkin berharap dapat mengamankan pasokan dalam negeri mereka, tetapi mereka juga harus ingat bahwa banyak perusahaan mereka sendiri yang bergantung pada pasar internasional. Kebijakan ini bisa memicu relokasi industri ke negara lain yang lebih stabil,” ujar Johannes.
Meskipun begitu, Johannes juga melihat adanya peluang bagi negara-negara lain yang memiliki cadangan mineral serupa. Ia memperkirakan bahwa permintaan terhadap pemasok alternatif akan meningkat, membuka kesempatan baru bagi negara-negara penghasil mineral lainnya.
Selain Johannes, diskusi ini juga dihadiri oleh Direktur Eksekutif European Mineral Association, Claudia Weber, serta Analis Senior dari Global Resource Advisory, Mark Thompson, yang turut memberikan pandangan mereka terkait dampak kebijakan ekspor Tiongkok terhadap pasar global.













