Ekonom pendiri Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, memberikan peringatan serius mengenai potensi serangan hama yang dapat menganggu produksi beras di tahun mendatang. Menyikapi hal ini, pemerintah menetapkan target produksi beras sebanyak 32,29 juta ton untuk tahun depan, yang menandai peningkatan sebanyak 2 juta ton dari jumlah produksi yang diperkirakan untuk tahun ini, yaitu sebesar 30,35 juta ton. Khudori menekankan perlunya pendekatan yang berbeda dalam hal penanaman tanaman di sawah, agar dapat menghentikan siklus hidup hama yang merugikan. Dia menyarankan agar dalam satu musim tanam, para petani tidak hanya menanam padi secara terus-menerus, melainkan mengkombinasikan dengan tanaman lain untuk memaksimalkan indeks pertanaman. Dengan demikian, Khudori menegaskan pentingnya mengatur pola tanam yang bervariasi guna mengantisipasi efek buruk dari ancaman serangan hama.
Selain itu, Khudori juga menyarankan agar penanaman dilakukan secara bersamaan di lahan yang luas, sebagai strategi untuk memutus siklus hama. Di sisi lain, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, telah menyiapkan sejumlah program untuk mencapai swasembada pangan. Rencana-rencana tersebut melibatkan pencetakan sawah seluas 3 juta hektare dalam kurun waktu 3-4 tahun, pengoptimalan lahan, rehabilitasi jaringan irigasi, serta penyediaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) guna mempercepat proses pertanaman hingga panen.
Dalam perkembangannya, pemerintah pada tahun 2024 berhasil menyelesaikan tahap pertama dari program optimasi lahan rawa seluas 40 ribu hektare di Kabupaten Merauke. Dari total luas tersebut, sekitar 35.000 hektare telah ditanami dengan tanaman yang beragam, sedangkan 5.000 hektare sisanya masih dalam tahap persiapan untuk segera ditanami. Dengan implementasi program-program tersebut, diharapkan dapat memberikan hasil yang optimal agar ketahanan pangan negara dapat terjamin dan kualitas produksi pertanian semakin meningkat.













